Potong rambut itu perawatan lima belas sampai empat puluh lima menit, tapi ritualnya sering lebih panjang: datang, menunggu, mengobrol, pulang. Kedai kopi mengisi bagian menunggu dan mengobrol itu dengan sesuatu yang memang dinikmati.
Di Gunung Putri polanya jelas. Sabtu pagi, satu keluarga datang: anak potong dengan Rizky, ayah menyusul dengan Andra, ibu menunggu dengan latte. Tanpa coffee corner, menunggu 30 menit itu beban. Dengan coffee corner, itu jadi acara keluarga.
Buat pekerja shift, kopi gratis tiap potong di hari kerja bukan gimmick. Espresso setelah shift malam sebelum tidur siang, atau sebelum masuk shift sore, memang bagian dari ritme kerja di sini.
Dan buat kami sendiri, kopi membuat kedai hidup di jam sepi barbershop. Kursi cukur ramai sore dan akhir pekan, mesin espresso ramai pagi. Satu ruangan, dua ritme, satu suasana yang sama hangatnya.

